Sebulan yang lalu saya bersama tim
melakukan eksplorasi secara mendalam di sebuah desa untuk membuat video
dokumenter tentang budaya setempat. Desa itu memiliki keunikan
tersembunyi yang belum banyak orang tahu. Selama tiga hari kami
menghabiskan waktu untuk meliput segala aspek budaya di sana. Semua
tentang hal itu selalu membuat kami takjub.
Semuanya berjalan lancar, hingga hari terakhir kami meminta data di pemerintah desa setempat untuk melengkapi informasi dalam video yang kami buat. Tapi apa yang kami dapatkan sungguh membuat kaget. Data profil desa sangat berbeda dengan data yang ditampilkan pada dokumen di tataran yang lebih tinggi, seperti dalam dokumen Kecamatan Dalam Angka dari BPS. Dan pihak desa mengklaim data di profil-lah yang paling benar, karena mereka yang paling paham mengenai kondisi warganya.
Semuanya berjalan lancar, hingga hari terakhir kami meminta data di pemerintah desa setempat untuk melengkapi informasi dalam video yang kami buat. Tapi apa yang kami dapatkan sungguh membuat kaget. Data profil desa sangat berbeda dengan data yang ditampilkan pada dokumen di tataran yang lebih tinggi, seperti dalam dokumen Kecamatan Dalam Angka dari BPS. Dan pihak desa mengklaim data di profil-lah yang paling benar, karena mereka yang paling paham mengenai kondisi warganya.
Akhirnya, muncul kebingungan pada tim kami sebagai pembuat video tentang validitas data desa. Itu artinya apa? Ternyata data bagi kita masih dianggap sebagai sesuatu "lelucon". Data bukan menjadi hal yang perlu diprioritaskan. Pada lingkup yang paling kecil saja dalam sebuah pemerintahan, yang notabene harusnya menjadi ujung tombak ketersediaan data yang real time (nyata sesuai kondisi terkini), malah sangat longgar dalam hal manajemen data.
Di balik tampilan data yang sederhana, terdapat tanggung jawab moral yang besar selama data itu dapat diakses oleh publik. Banyak yang melupakan prinsip ini. Data yang benar saja masih bisa membuat proyeksi masa depan yang meleset, apalagi dengan menggunakan data yang salah. Apa tidak mengerikan?